Keraton Ngayogyakarta: Lokasi, Harga Tiket Masuk dan Sejarah

Keraton Ngayogyakarta
Rate this post

Keraton Ngayogyakarta menjadi saksi sejarah Yogyakarta yang membuktikan bahwa sistem Kesultanan dari dulu hingga kini masih bisa berjalan. Secara resmi tahun 1950, kesultanan Yogyakarta menjadi bagian resmi dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bangunan yang ada pada Keraton Ngayogyakarta ini menjadi contoh arsitektur istana Jawa yang bagus.

Lokasi, Jam Buka, Dan Tiket Masuk

Keraton Ngayogyakarta berada di Kota Yogyakarta, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Letak dari keraton ini sangat mudah ditemukan, karena letaknya dekat dengan obyek wisata lainnya yaitu Alun-Alun Yogyakarta. Sehingga bagi Anda yang datang dari luar kota dan ingin menuju ke tempat ini, Anda bisa datang ke tempat ini dengan menyewa mobil. Dengan menyewa mobil, Anda tidak perlu memikirkan lagi mengenai rute yang tidak Anda ketahui karena beberapa mobil sudah menyediakan GPS. Sehingga, Anda tidak akan tersesat untuk menuju ke Keraton Yogyakarta. Obyek wisata ini buka setiap hari dari jam 08.00 hingga 14.00 WIB dan hari Jumat buka hingga jam 12.00 WIB. Untuk biaya masuknya, wisatawan dikenakan biaya sebesar Rp. 7.000 untuk wisatawan lokal dan Rp. 12.500 untuk wisatawan asing.

Bagian-bagian Keraton Yogyakarta

Obyek wisata yang megah dan menyimpan sejarah ini tentunya memiliki bagian-bagian yang tentunya melengkapi keindahan Keraton Yogyakarta. Sehingga tidak salah jika Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat menjadi tempat yang agung dan terkenal hingga ke seluruh Nusantara bahkan hingga dunia. Berikut adalah bagian-bagian yang ada di Keraton Ngayogyakarta.

1. Gapura Gladhag Dan Gapura Pangurakan

Kedua gapura atau yang dalam bahasa Indonesia disebut gerbang utama ini adalah bagian yang Anda temui ketika Anda datang ke Keraton Ngayogyakarta. Bentuk gapura ini terlihat seperti sebuah pertahanan yang berlapis serta berada di sisi selatan. Pada masa kejayaannya, gapura Pangurakan digunakan sebagai tempat penyerahan daftar jaga sekaligus pengusiran bagi mereka yang dihukum atau dibuang.

2. Masjid Gede Kasultanan

Masjid yang sampai saat ini masih digunakan ini letaknya berada di sebelah barat Alun-Alun Utara. Rumah ibadah umat Islam ini dihiasi dengan tembok yang tinggi dengan arsitektur masjid yang berbentuk tajug persegi tertutup. Ditambah lagi dengan atap dengan tumpang tiga tentunya semakin menambah keindahan masjid ini. Nilai keunikan dari masjid ini juga ditambah dengan bagian depan masjid yang ditanami pohon tertentu. Selain itu juga terdapat kolam kecil yang ada di berbagai sudut serambi yang digunakan untuk mencuci kaki pada zaman dahulu.

3. Alun-Alun Utara

Alun-Alun Utara atau yang juga disebut dengan Alun-Alun Lor ini merupakan sebuah lapangan rumput yang letaknya berada di sisi utara keraton. Pada waktu itu, tanah lapang ini dikelilingi dengan dinding pagar yang tinggi akan tetapi sekarang tidak terlihat lagi. Dinding pagar yang masih tersisa tinggal yang berada pada bagian timur. Pada bagian tepi Alun-Alun ditanami dengan pohon beringin yang mana di tengahnya terdapat dua pohon beringin yang disebut Ringin Kurung. Sekitar pohon beringin juga terdapat pendopo kecil yang diberi nama Pekapalan. Tempat ini merupakan tempat menginap para pemimpin daerah atau Bupati dari luar kesultanan. Sayangnya, bangunan ini sebagian sudah lenyap serta berubah fungsi.

4. Kompleks Pagelaran

Dahulunya, bangunan utama Keraton Ngayogyakarta ini diberi nama Tratag Rambat, akan tetapi sekarang disebut dengan Bangsal Pagelaran. Pagelaran ini dahulunya digunakan sebagai tempat bagi penggawa kesultanan menghadap Sultan saat upacara resmi. Akan tetapi saat ini, Kompleks Pagelaran digunakan untuk berbagai acara religi, pariwisata, dan sebangsanya. Dari jauh sebelah timur terdapat sebuah Bangsal Pemandengan yang dulu digunakan untuk menyaksikan latihan perang di Alun-Alun Utara. Selain itu terdapat juga Bangsal Pasewakan yang berada di luar Pagelaran yang digunakan para panglima menerima perintah dari Sultan. Bangsal Pengrawit yang juga berada di bagian selatan Kompleks Pagelaran ini dulunya digunakan pelantikan Pepatih Dalem yang dilantik oleh Sultan.

5. Kamandhungan Lor

Kompleks Kamandhunga Lor ini dihubungkan dengan sebuah lorong yang mana merupakan dinding serta terdapat gerbang besar bernama Regol Brojonolo. Gerbang tersebut hanya dibuka saat acara resmi kerajaan dan ditutup saat berada di hari-hari biasa. Untuk menuju ke kompleks ini pada hari biasa, Anda bisa masuk melalui Gapura Keben yang berada di sebelah timur dan barat. Kompleks Kamandhungan ini ditanami Pohon Keben pada halamannya, sehingga sering disebut dengan Keben. Bangunan utama pada Kompleks Kamandhungan ini dahulu digunakan sebagai tempat untuk mengadili perkara yang dipimpin oleh Sultan sendiri. Ada juga yang menyebutkan bahwa tempat ini digunakan untuk mengadili semua perkara yang berkaitan dengan keluarga kerajaan. Saat ini, bangsal ini digunakan untuk acara adat.

6. Siti Hinggil Ler

Letak dari kompleks ini berada di sebelah selatan Kompleks Pagelaran yang mana digunakan untuk mengadakan upacara resmi kerajaan. Di tempat ini juga digunakan sebagai peresmian Universitas Gadjah Mada pada tanggal 19 Desember 1949. Kompleks Siti Hinggil Ler ini dibuat lebih tinggi dengan dua jenjang untuk menaiki kompleks ini. Pohon Gayam menjadi pohon yang ditanami di antara Kompleks Pagelaran dengan Komples Siti Hinggil Ler. Pada kompleks ini terdapat banyak bangsal, yaitu Bangsal Pacikeran, Bangsal Kori, dan Bangsal Manguntur Tangkil, dan Bangsal Witono. Bangsal Pacikeran digunakan sebagai tempat transit untuk menunggu rombongan para panggede masuk ke istana. Yang kedua adalah Bangsal Kori yang digunakan sebagai menyampaikan permohonan serta pengaduan rakyat kepada Sultan. Bangsal Manguntur Tangkil digunakan sebagai tempat duduk Sultan untuk acara resmi kerajaan. Sedangkan Bangsal Witono digunakan untuk meletakkan pusaka kerajaan serta lambang kerajaan saat acara resmi kerajaan.

Lihat tempat wisata di jogja lainnya: Embung Nglanggeran

7. Sri Manganti

Kompleks ini berada di sebelah selatan Kmandhungan Ler yang dihubungkan dengan Regol Sri Manganti yang mana terdapat hiasan Makara raksasa. Di kompleks ini juga terdapat Bangsal Sri Manganti yang digunakan untuk menerima tamu penting kerajaan pada masa itu. Akan tetapi pada saat ini, tempat ini digunakan sebagai tempat peletakan alat musik gamelan. Tidak hanya itu, acara pariwisata keraton juga digelar di kompleks ini.

Fakta Mengenai Keraton Ngayogyakarta

Selain bangunannya yang mewah, Keraton Ngayogyakarta juga menyimpan fakta-fakta tersembunyi. Sehingga fakta-fakta ini harus Anda ketahui sebagai warga Indonesia sekaligus juga menjadi pengetahuan Anda. Salah satu fakta yang harus Anda ketahui ini adalah Thomas Stamfor Raffles yang menjarah harta Keraton Yogyakarta. Hal ini didasari atas keputusan Gubernur Daendels yang ingin memusatkan kekuasaan di Batavia serta mengangkat pejabat demi menciptakan loyalitas pemimpin lokal. Kemudian pada tahun 1811 hingga 1816, Inggris mengalahkan Belanda dan kemudian memperalat Daendels. Sehingga terjadilah penjarahan besar-besaran yang mana kekayaan Sultan yang sudah dikumpulkan selama 16 tahun dirampas. Selain itu juga fakta mengenai Pangeran Diponegoro yang tergerak untuk menyatakan perang setelah Inggris menjarah kesultanan. Salah satu siasat Diponegoro adalah wilayahnya meniadakan pajak sehingga bantuan dari banyak rakyat didapatkan. Sehingga Pangeran Diponegoro dibantu rakyat berhasil memerangi penjajah.

Keraton Ngayogyakarta sejatinya menjadi tempat bersejarah yang harus dikunjungi seluruh masyarakat Indonesia, terutama bagi generasi muda. Agar nantinya mereka tidak melupakan sejarah mereka sebagai bangsa Indonesia. Hal tersebut tentunya sejalan dengan istilah Jasmerah yang artinya Jangan Sesekali Melupakan Sejarah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× 0818-635-846