Museum Vredeburg, Benteng Peninggalan Belanda Yang Jadi Wisata Edukasi

Museum Vredeburg

Museum Vredeburg adalah tempat yang dahulunya merupakan sebuah benteng yang mana letaknya di depan Keraton Kesultanan serta Gedung Agung. Benteng ini kemudian berubah fungsi menjadi museum yang mana berisi diorama sejarah Indonesia. Museum ini bisa menjadi rekomendasi bagi Anda yang ingin berwisata sejarah di Yogyakarta. Anda bisa datang ke tempat ini dengan cara sewa mobil di Jogja. Karena dengan menggunakan sewa mobil, Anda akan merasakan hal yang berbeda dibanding dengan membawa mobil pribadi. Anda tidak perlu memikirkan biaya perbaikan dan lain sebagainya.

Sejarah Benteng Vredeburg Dari Masa Ke Masa

Jika berbicara mengenai sejarah tentang Museum Vredeburg, tentunya tidak lepas kaitannya dengan lahirnya Kesultanan Yogyakarta. Sehingga, Anda harus mengetahui sejarah benteng ini dari waktu ke waktu. Berikut adalah sejarahnya :

1. Masa Awal Pembangunan

Pada tahun 1760, Sultan Hamengkubuwono pertama sudah membangun sebuah benteng dengan bentuk bujur sangkar atas permintaan Belanda. Empat sudut yang ada pada benteng diberi tempat penjagaan yang mana keempat sudutnya diberi nama Jayawisesa, Jayapurusa, Jayaprakosaningprang, dan Jayaprayitna. Keadaan benteng ini sangat sederhana pada waktu itu dengan tembok yang terbuat dari tanah. Sementara untuk tiang penyangganya menggunakan kayu aren dan kayu kelapa. Untuk bangunan di dalam benteng terdiri dari kayu dan bambu serta beratap ilalang. Tahun 1765, Sultan menerima usulan agar benteng ini dibuat menjadi bangunan yang permanen supaya lebih terjaga keamanannya. Usulan ini dikabulkan kemudian Ir. Frans Haak menjadi pengawas pembangunan benteng ini.

2. Masa Pemugaran Pertama

Pengerjaan ulang benteng ini dilaksanakan pada tahun 1765 dan direncanakan akan selesai pada tahun itu juga. Akan tetapi pembangunan ini baru selesai pada tahun 1787 dikarenakan Sultan sedang sibuk dengan pembangunan Keraton Yogyakarta. Kemudian, benteng ini diberi nama dengan Benteng Rustenburg yang artinya Benteng Peristirahatan. Secara yuridis formal, status tanah pada benteng ini milik kesultanan, akan tetapi secara de facto benteng dan tanahnya dimiliki oleh Belanda.

3. Masa Bangkrutnya VOC

Sekitar tahun 1799, tepatnya pada masa VOC bangkrut, membuat kekuasaan benteng diambil alih oleh Pemerintah Belanda. Sehingga secara de facto, tanah serta benteng tersebut milik Pemerintah Belanda. Sejak bangkutnya VOC hingga tahun 1811, tanah dan benteng milik pemerintah Belanda walaupun berganti kepemimpinan sekalipun. Kepemilikan ini tentu saja secara de facto, sedangkan secara yuridis formal tetap milik kesultanan.

4. Masa Penjajahan Inggris

Tahun 1811 hingga 1816, Inggris menguasai benteng ini untuk sementara di bawah pimpinan Thomas Stamford Raffles. Tapi dalam waktu yang singkat saja, Belanda bisa mengambil alih benteng ini. Sehingga benteng ini tetap milik Belanda secara de facto.

5. Masa Penggantian Nama Benteng

Benteng ini berganti nama dari Rustenburg menjadi Vredeburg, yang mana memiliki arti Benteng Perdamaian. Pemberian nama ini diilhami dari hubungan Belanda serta Kasultanan Yogyakarta yang pada waktu itu tidak saling menyerang. Penggantian nama ini juga seiring dengan gempa yang terjadi tahun 1867. Beberapa bangunan termasuk juga benteng ini rubuh sehingga benteng dan bangunan lainnya dibangun ulang.

Bentuk dari benteng ini sendiri tetap seperti pada awal pembangunannya, yaitu berbentuk bujur sangkar. Empat sudut dengan ruang penjagaan juga dibangun sama seperti awalnya. Yang berbeda adalah penambahan bagian-bagian yang sebelumnya tidak ada seperti pintu gerbang yang dikelilingi parit, gudang mesiu, gudang logistik, rumah sakit, dan lain-lain. Jumlah prajurit yang ada di Benteng Vredeburg ini ada sekitar 500 orang termasuk juga dengan petugas medis. Benteng ini pada masa pemerintahan Hindia Belanda digunakan sebagai tempat berlindung para residen yang bertugas di Yogyakarta.

6. Masa Penjajahan Jepang

Tahun 1942, benteng dikuasai oleh Tentara Jepang serta ditandai dengan Perjanjian Kalijati tahun 1942 di Jawa Barat. Selain itu, Jepang memberlakukan undang-undang nomor 1 tahun 1942 bahwa kedudukan pimpinan daerah tetap diakui akan tetapi masih di bawah pengawasan Gubernur Jepang yang berkantor di Gedung Agung. Selain di Kotabaru, pusat kekuatan Tentara Jepang juga diperkuat di Benteng Vredeburg. Benteng Vredeburg juga menjadi tempat tawanan Belanda dan Indo Belanda ditahan. Kaum politisi Indonesia yang menentang Jepang juga ditahan di benteng tersebut. Kekuasaan Jepang ini hanya berlaku tahun 1942 sampai 1945 saja. Sehingga pada saat proklamasi, bangunan-bangunan Jepang mulai di nasionalisasi.

7. Masa Kemerdekaan

Saat masa kemerdekaan, seluruh warga Yogyakarta menyambutnya dengan lega. Sehungga pada saat itu, warga Yogyakarta mulai melakukan berbagai aksi spontan seperti misalnya melucuti senjata Jepang, Setelah benteng dikuasai pihak RI, benteng ini digunakan sebagai markas pasukan khusus yang tergabung pada kode Staf “Q”. Di kompleks benteng tersebut juga dibangun rumah sakit tentara yang bertujuan merawat korban perang. Akan tetapi dalam perkembangannya, rumah sakit ini juga melayani tentara beserta keluarga mereka. Tahun 1946, kondisi politik di Indonesia mengalami perbedaan persepsi. Sehingga muncullah peristiwa 3 Juli 1946 yang mana merupakan sebuah percobaan kudeta yang dipimpin oleh Jenderal Mayor Soedarsono.

Misteri Museum Vredeburg

Museum Vredeburg yang dahulunya merupakan benteng ini tentunya memiliki misteri yang mana diyakini oleh warga sekitar. Beberapa orang pernah melihat hantu noni Belanda dengan kaki kuda dan suara pasukan tentara yang sedang berlatih. Hantu pasukan tentara tanpa kepala ini juga sering muncul di sekitar Museum Vredeburg. Kejadian hantu pasukan tentara tanpa kepala ini dialami oleh warga Pakualaman yang saat itu menjaga stand pameran di Museum Vredeburg. Saat dini hari, ia mendengar suara aneh seperti pasukan tentara yang sedang berbaris serta dibarengi dengan aba-aba berbahasa Belanda.

Lalu suara itu semakin mendekat hingga ke tempat orang ini berjaga. Yang anehnya, hanya ia sendiri yang mendengar karena orang lain yang juga menjaga stand tidak mengalami sama sekali. Untuk kejadian noni Belanda berkaki kuda ini dialami oleh tukang becak  yang mana saat dini hari ia mengayuh becak dengan perlahan. Dari arah gerbang benteng, ia melihat wanita cantik dengan gaun panjang dan tukang becak tersebut menawarkan jasa becak kepada wanita tersebut. Ia terkejut saat gaunnya disibakkan dan kaki wanita tersebut seperti kaki kuda. Kejadian misteri lainnya juga terjadi saat renovasi Pasar Beringharjo tahun 1998 di mana terdengar suara teriakan dari dalam benteng. Ternyata suara tersebut bersumber dari tawanan yang ditahan di Benteng Vredeburg.

Jam Buka, dan Tiket Masuk

Wisata sejarah ini berbeda dari tempat wisata lainnya yaitu tempat ini hanya tutup pada hari Senin saja. Hal ini dikarenakan peraturan yang berlaku serta pengelola yang membutuhkan waktu untuk merawat benda-benda yang ada di museum. Sehingga, tempat wisata ini dibuka pada hari Selasa hingga Kamis pada jam 07.30 sampai 16.00, dan Jumat sampai Minggu jam 07.30 hingga 16.30. Selain Idul fitri dan Idul adha serta hari Senin, Museum Vredeburg tetap buka. Untuk tiket masuknya, wisatawan dikenakan biaya Rp. 2.000 untuk anak-anak dan Rp. 3.000 untuk dewasa. Sedangkan untuk wisatawan asing dikenakan biaya Rp. 10.000.

Museum Vredeburg merupakan wisata sejarah yang harus dikunjungi oleh wisatawan. Mengingat akhir-akhir ini jarang orang yang ingin berwisata ke museum. Selain dapat menambah wawasan, mengunjungi museum juga menjadi salah satu cara untuk melestarikan sejarah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× 0818-635-846