Masjid Kauman, Wisata Religi Bersejarah Di Yogyakarta

masjid kauman

Islam masuk ke Indonesia sejak berabad-abad lalu dan konon disebarkan oleh para pedagang dari Arab dan Gujarat, daerah di India. Pertama kali Islam masuk ke Indonesia adalah sejak zaman Kerajaan Perlak yang berlokasi di sekitar Aceh Timur. Kemudian muncul Kerajaan Samudera Pasai yang juga menjadi kerajaan Islam di Indonesia. Sedangkan di Pulau Jawa sendiri atau lebih tepatnya di Yogyakarta, kerajaan Islam di daerah tersebut ada sejak zaman Kesultanan Yogyakarta berdiri. Dari kerajaan tersebut, terdapat sebuah masjid bernama Masjid Kauman yang sampai sekarang masih digunakan.

Baca tempat wisata religi lain : Sumur Gumuling Tamansari

Sejarah Masjid Kauman

Masjid Kauman adalah sebuah tempat ibadah yang didirikan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono yang pertama pada 29 Mei 1773. Bukti berdirinya masjid ini terpampang juga pada prasasti yang ada di Masjid Gedhe Kauman. Orang yang memprakarsai pembangunan masjid ini adalah Sultan beserta Kyai Penghulu Faqih Ibrahim Diponingrat. Sedangkan untuk arsitekturnya adalah seorang arsitektur yang terkenal pada waktu itu bernama Kyai Wiryokusumo. Karena banyaknya jamaah yang beribadah di masjid tersebut, kemudian dibangunlah Serambi Masjid Gedhe Kauman pada tahun 1775. Selain digunakan untuk sholat, serambi masjid juga digunakan sebagai pertemuan Alim Ulama, pengajian, kegiatan agama dan peringatan hari-hari besar Islam.

Selanjutnya tahun 1840, dibangun sebuah regol masjid atau juga yang disebut dengan Gapuro. Secara bahasa, Gapuro berasal dari kata dalam Bahasa Arab, ghofuro yang berarti ampunan dari segala dosa. Dalam arti lain, bila orang memasuki masjid melewati Gapuro serta berniat masuk Islam dengan baik, maka akan mendapatkan ampunan dosa.

Sekitar tahun 1867, Yogyakarta pernah dilanda gempa bumi yang besar dan meruntuhkan beberapa bangunan penting, termasuk juga Serambi Masjid Kauman. Tidak lama setelah kejadian gempa, Sri Sultan Hamengku Buwono keenam memberi kagungan dalem yang berupa Surambi Menara Agung. Kegunaan dari Surambi Menara Agung ini nantinya akan dipakai untuk bangunan pagelaran. Serambi Masjid Gedhe yang baru luasnya sekitar dua kali lipat dari serambi sebelumnya. Bahkan sampai saat ini, serambi masjid ini masih utuh.

Lalu pada tahun 1917 dibangun gedung Pajagan yang berada di pinggir kanan kiri regol masjid serta memanjang ke utara dan selatan. Fungsi dari gedung ini adalah untuk digunakan keamanan masjid serta keamanan setiap hari besar Islam. Pada tahun 1933 atas prakarsa Sri Sultan Hamengku Buwono ke delapan, lantai serambi masjid diganti dari yang sebelumnya batu kali diganti tegel kembangan. Atap masjid juga diganti dengan seng wiron yang tebal dan lebih kuat.

Lokasi Masjid Kauman

Masjid Kauman ini masih satu kompleks dengan Keraton Yogyakarta, sehingga tempat ini sangat mudah untuk ditemukan.

Baca ulasan selengkapnya Keraton Yogyakarta

Tempat ibadah yang bersejarah ini juga dapat ditempuh dengan berbagai cara termasuk juga menggunakan jasa sewa mobil di Jogja. Dengan menggunakan jasa sewa mobil di Jogja, Anda bisa berjalan-jalan ke obyek wisata lain yang ada di Yogyakarta. Selain itu, Anda juga tidak perlu memikirkan biaya perawatan kendaraan karena pihak penyedia jasa yang akan menanggungnya. Sehingga, Anda tidak perlu takut kehilangan uang untuk servis kendaraan.

Bagian Ruangan Masjid Kauman

Masjid Kauman memiliki arsitektur tradisional Jawa kental dengan atap tumpang tiga dan mustaka yang menggambarkan daun kluwih serta gadha. Makna dari atap tumpang tiga adalah tatanan kehidupan manusia dan daun kluwih menggambarkan kelebihan yang sempurna. Gadha yang ada pada mustaka memiliki makna yang berarti menyembah Tuhan Yang Maha Esa. Masjid Kauman memiliki banyak bagian ruang yang sudah ada dari masa ke masa. Berikut ini adalah beberapa yang ada pada Masjid Kauman.

1. Ruang Utama

Di ruang utama yang mana digunakan sebagai tempat untuk beribadah ini terdiri dari beberapa bagian yang melengkapi ruangan ini. Salah satu bagian di ruang utama adalah maksura yang letaknya berada di samping kiri belakang mihrab dan terbuat dari kayu jati. Maksura ini digunakan untuk tempat sholat Sultan ketika Sultan ingin Sholat berjamaah. Di ruang utama juga terdapat mimbar yang ada di sebelah kanan tempat imam yang digunakan untuk menyampaikan khotbah. Selain mimbar, terdapat juga tempat imam dan shaf sholat yang umumnya ada pada masjid-masjid lainnya.

2. Yaithun Dan Pawestren

Yaithun merupakan sebuah ruangan khusus yang ada pada Masjid Kauman dan digunakan untuk istirahat para ulama, marbot, dan khatib. Fungsi dari ruangan itu selain sebagai tempat istirahat juga digunakan sebagai tempat musyawarah untuk membincangkan tentang permasalahan agama. Bangunan Yaithun berada di samping utara bangunan inti masjid. Selain itu terdapat bangunan yang digunakan untuk sholat jamaah kaum perempuan. Bangunan tersebut berada di sebelah selatan bangunan utama Masjid Kauman.

3. Blumbang Dan Serambi

Masjid Gedhe Kauman memiliki sebuah kolam yang melingkar di depan serambi dengan lebar 8 meter dan kedalaman kurang lebih 3 meter. Kegunaan dari blumbang ini adalah untuk menyucikan diri atau berwudhu sebelum memasuki masjid. Kini kolam ini menjadi hiasan dan lebih kecil ukurannya, yaitu lebar 2 meter dan kedalaman 0,75 meter. Selain itu, terdapat juga serambi masjid yang dihiasi berbagai warna dengan prada emas. Kaligrafi yang diwujudkan dengan bentuk stilir tumbuhan ini menghiasi tiang serambi. Serambi ini juga menggunakan atap berbentuk limasan.

4. Pagongan Dan Pasucen

Pagongan merupakan sebuah bangunan di sebelah kanan dan kiri dalam pelataran masjid yang digunakan sebagai tempat Gamelan Sekaten. Gamelan Sekaten ini adalah gamelan yang dibunyikan pada saat peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dan diadakan bersama dengan Sultan dan istrinya. Selain itu juga terdapat bangunan bernama Pasucen yang digunakan sebagai tempat untuk permulaan suci yang letaknya di bagian tengah serambi. Pasucen ini digunakan sebagai tempat untuk Sultan berjalan memasuki Masjid Gede.

5. Pajagan Dan Regol

Seperti yang sudah disampaikan pada sejarah Masjid Kauman, Pajagan merupakan sebuah tempat yang digunakan para prajurit keraton untuk menjaga keamanan. Letaknya yang memanjang ke kanan dan ke kiri ini sekarang digunakan sebagai tempat pertemuan serta menjadi perpustakaan masjid. Gapura atau yang juga disebut regol ini juga merupakan bagian bangunan dari Masjid Kauman yang mana berbentuk Semar Tinandu. Dahulunya, gapura ini digunakan untuk meng-Islam-kan masyarakat yang hendak melihat serta mendengarkan gamelan di pelataran masjid.

Masjid Kauman merupakan salah satu wisata religi bersejarah di Kota Yogyakarta dan sampai saat ini masih ada dan digunakan. Adanya bangunan masjid ini juga menjadi empat pilar bangunan atau yang disebut dengan Catur Tunggal. Catur Tunggal ini meliputi Keraton, Alun-Alun Utara, Pasar Beringharjo, dan Masjid Keraton. Empat pilar ini merupakan sebuah pola tata negara sejak awal berdirinya Keraton sebagai sebuah roda kehidupan. Sehingga empat pilar ini menjadi satu kesatuan dan menunjang kehidupan masyarakat Yogyakarta. Bahkan, empat bangunan ini semuanya merupakan sebuah tempat wisata sejarah yang layak untuk dikunjungi untuk menambah ilmu pengetahuan. Sehingga, Masjid Kauman dapat menjadi rekomendasi wisata sejarah yang bisa Anda kunjungi di Yogyakarta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× 0818-635-846