Masjid Jogokariyan, Destinasi Wisata Religi Bersejarah

masjid jogokariyan
Rate this post

Masjid merupakan salah satu tempat ibadah umat Islam yang mana menjadi fasilitas yang sangat penting di masyarakat. Bahkan, keberadaan masjid yang sudah ada sejak zaman dahulu selaras dengan penyebaran agama Islam kala itu. Sehingga berbagai daerah termasuk Yogyakarta memiliki masjid bersejarah, salah satunya adalah Masjid Jogokariyan.

Lihat juga Masjid lain di Jogja yang wajib dikunjungi : Masjid Gedhe Kauman

Masjid Jogokariyan merupakan salah satu dari masjid di Yogyakarta yang juga memiliki sejarah panjang. Selain masjid Kauman, masjid yang berada di daerah Jogokariyan ini menjadi masjid yang bersejarah. Hal tersebut karena peran dari masjid ini yang berdampak besar terhadap kehidupan masyarakat Jogokariyan hingga saat ini.

Sejarah Masjid Jogokariyan

Kampung Jogokariyan pada waktu itu belum memiliki masjid. Kegiatan keagamaan dan dakwah saat itu berada di sebuah langgar kecil di pojok kampung yang letaknya di RT 42 RW 11. Langgar 3×4 meter persegi berlantai berundak tinggi ini bahkan tidak pernah terisi. Karena saat itu masyarakat masih menjunjung tinggi budaya Jawa.

Lalu pada pemerintahan Sultan Hamengku Buwono ke delapan terdapat perubahan prajurit Keraton yang semula adalah Prajurit Perang menjadi prajurit upacara. Selain itu jumlahnya dipersempit dari 750 orang menjadi  75 orang. Sehingga para prajurit banyak yang kehilangan jabatan dan pekerjaan.

Karena tidak lagi menerima gaji, maka para Abdi Dalem ini kemudian menjadi petani yang diberi tanah sawah dan pekarangan. Beberapa warga sekitar kesulitan untuk menyesuaikan diri sehingga tanah pekarangan banyak yang jatuh dijual. Tanah tersebut dijual kepada para pengusaha batik dan tenun dari Jogokariyan.

Masa-masa buram bagi keturunan Abdi Dalem prajurit Jogokariyan adalah masa ketika batik dan tenun sedang jaya. Banyak warga yang tidak bisa menyesuaikan diri. Para penduduk asli yang sudah menjadi miskin di tengah kemakmuran pendatang. Kesenjangan sosial ekonomi ini kemudian dimanfaatkan oleh Partai Komunis Indonesia.

Gerakan PKI lalu disambut oleh warga Jogokariyan dengan penuh semangat. Sehingga Jogokariyan menjadi basis PKI. Pada saat G30S PKI 1965, banyak warga sekitar yang diciduk sebagai tahanan politik. Untuk mempererat perubahan sosial ini, kemudian dibangunlah Masjid Jogokariyan.

Masjid Jogokariyan sampai saat ini sudah menjadi media untuk mengubah masyarakat yang semula paham komunis menjadi masyarakat yang islami. Hal tersebut juga sesuai dengan fungsi dari masjid ini sebagai agen perubahan.

Asal-Usul Nama Masjid Jogokariyan

Sebuah nama tempat dipilih karena berbagai alasan, termasuk juga dengan masjid ini. Alasan pemilihan nama tersebut adalah karena berpegang pada Sunnah Rasulullah SAW. Ketika beliau memberi nama pada masjid, hal yang beliau lakukan adalah menambahkan nama kampung atau lokasi keberadaan masjid tersebut.

Para pendiri Masjid Jogokariyan juga berharap masyarakat akan lebih mudah menemukan lokasi atau keberadaan masjid. Diberikan nama Jogokariyan ini juga sesuai nama kampungnya yang mana orang-orang akan langsung merujuk pada nama tempat keberadaan masjid ini. Sehingga masyarakat akan lebih mudah untuk menemukan lokasi dari Masjid Jogokariyan.

Nama Jogokariyan ini juga diyakini mampu merekatkan dan mempersatukan masyarakat sekitar yang sebelumnya terpecah belah karena perbedaan aliran. Pemberian nama ini juga dimaksudkan untuk menghapus segala perbedaan pandangan kemudian menyatukan penduduk Jogokariyan dengan perbedaan status dan golongan.

Lihat juga obyek wisata religi yang lain : Sumur Gumuling Tamansari

Kegiatan Masjid Jogokariyan

Masjid Jogokariyan tentunya merancang program kegiatan yang bertujuan untuk menata masjid. Program kegiatan tersebut dijalankan sebagai langkah yang tepat untuk menjadikan Masjid Jogokariyan sebagai pusat peradaban umat. Berikut adalah program kegiatan Masjid Jogokariyan.

1. Pemetaan Jamaah

Para pengurus Masjid Jogokariyan memiliki peta dakwah yang jelas serta jama’ah yang terdata. Sensus masjid ini bertujuan untuk mengetahui data-data jama’ah secara detail dan bisa menjadi database agar kegiatan masjid bisa lebih terlaksana.

Data mengenai potensi tadi juga digunakan untuk berbagai keperluan. Pihak masjid sengaja tidak membuat unit usaha sendiri di sekitar masjid dengan tujuan untuk tidak menyakiti hati jamaah yang memiliki usaha. Sebagai gantinya, pihak masjid memberdayakan warga untuk berbagai macam kegiatan.

2. Undangan Shalat Subuh

Untuk menggalakkan jamaah untuk beribadah subuh berjamaah di masjid, pengurus masjid memiliki cara yang unik. Mereka membuat undangan yang diumumkan melalui speaker kepada seluruh jama’ah disertai dengan nama lengkap mereka.

Dalam undangan tersebut juga disertai hadis mengenai pentingnya beribadah subuh di masjid. Undangan semacam itu tentunya sangat eksklusif dan terbukti meningkatkan jumlah jamaah shalat subuh berjamaah.

3. Gerakan Sisa Infak Nol Rupiah

Berbeda dengan masjid pada umumnya, masjid ini berupaya agar saldo infak yang diberikan oleh para jamaah akan habis setiap pekan. Para pengurus masjid berpendapat bahwa infak jamaah seharusnya tidak disimpan di dalam rekening. Akan tetapi harus dipergunakan untuk hal yang berguna bagi umat.

Selain untuk operasional masjid, dana infak juga digunakan untuk kebutuhan mendesak jamaah atau warga yang tinggal di sekitar masjid. Menurut mereka, sangat tidak etis jika saldo rekening bank masjid menumpuk tapi di sekitar mereka masih banyak warga yang merasakan kesulitan hidup.

4. Gerakan Jamaah Mandiri

Gerakan Jamaah Mandiri bertujuan untuk menghitung jumlah infak yang perlu dibayarkan oleh jamaah. Apabila jumlah yang ditentukan sesuai dengan jumlah yang diinfakkan, maka jamaah tersebut disebut sebagai jamaah mandiri.

Apabila uang infaknya lebih, mereka disebut sebagai jamaah penyubsidi. Sedangkan apabila uang infaknya kurang, mereka akan disebut sebagai jamaah disubsidi. Pengurus masjid akan memberikan laporan transparan terkait alur pemasukan serta pengeluaran dana.

Hal itu diharapkan oleh pengurus masjid agar ketika melakukan renovasi masjid, mereka tidak perlu membebani jamaah dengan proposal.

5. Merancang Strategi

Masjid Jogkariyan selalu memiliki strategi dakwah yang terencana dengan tema-tema tertentu setiap periodenya. Pada periode 2000 hingga 2005, strategi dakwah Masjid Jogokariyan bertekad untuk mengubah tradisi di Kampung Jogokariyan menjadi islami murni. Hal itu didasari alasan karena sebagian besar penduduk Kampung Jogokariyan menerapkan ajaran Islam dengan kultur Jawa.

Anak-anak muda yang gemar berbuat maksiat juga diarahkan untuk ke masjid. Beberapa dari pemuda ini diangkat menjadi keamanan masjid. Selain itu, Masjid Jogokariyan juga turut mengajak anak-anak kecil untuk beraktivitas di lingkungan masjid.

Lalu pada tahun 2005 sampai 2010, Masjid Jogokariyan kemudian membiasakan masyarakat berkomunitas di masjid. Salah satunya juga berkonsentrasi untuk menyejahterakan jama’ah melalui kegiatan-kegiatan tertentu.

Terakhir pada tahun 2010 sampai tahun 2015, Masjid Jogokariyan memiliki strategi untuk meningkatkan keagamaan masyarakat. Para pengurus dan ta’mir masjid bertekad untuk menuntaskan masyarakat yang sebelumnya kurang taat menjadi lebih taat beribadah.

Penutup

Masjid Jogokariyan adalah salah satu dari banyaknya masjid yang ada di Yogyakarta. Keberadaan dari masjid ini sangat bersejarah sehingga layak untuk dikunjungi wisatawan dari berbagai daerah. Tidak hanya keberadaannya saja, akan tetapi masyarakat yang dibina oleh masjid juga menjadi sebuah ciri khas yang tidak bisa ditemukan di tempat lain.

Untuk mengunjungi tempat ini, wisatawan bisa menggunakan jasa sewa mobil di Jogja. Karena dengan menggunakan jasa sewa mobil di Jogja, wisatawan bisa menyewa berbagai armada mobil yang sesuai dengan keinginan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× 0818-635-846